Rabu, 28 Maret 2012

JENIS-JENIS POHON DI KAWASAN HUTAN SEKITAR DANAU LAWULAMONI DI KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA



JENIS-JENIS POHON DI KAWASAN HUTAN SEKITAR DANAU LAWULAMONI DI KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA









HASIL PENELITIAN



O L E H


ELLY TRIANA SARI BIAN, S.Pd










BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Flora adalah suatu sumber daya alam hayati yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan umat manusia. Selain berfungsi sebagai tata air di dalam tanah, juga dapat mencegah terjadinya banjir, erosi serta memelihara kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan hidup. Di dalam hutan diperoleh berbagai hasil untuk keperluan hidup manusia seperti kayu untuk bahan bangunan dan bahan industri, kayu bakar, kayu lapis, kayu pulp, rotan dan damar. Disamping itu juga, hutan memainkan peranan penting dalam mengatur atmosfer dan iklim, menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar (Munro, 1993: 142).
Salah satu negara yang memiliki hutan terbesar di dunia adalah Indonesia. Luas hutan di Indonesia cukup besar dan terdiri atas banyak sekali tipe hutan (Simon, 1988: 31). Indonesia memiliki 122.227.000 ha hutan. Hutan itu merupakan bagian dari flora Malaysiana yang terkenal kaya akan keragaman jenis. Jenis-jenis pohon di Indonesia sangat banyak dan diduga sekitar 4.000 jenis. Dari jumlah itu baru sedikit yang dikenal sifat-sifatnya dan telah dipasarkan (Samingan, 1981: 1).
Kawasan hutan di sekitar Danau lawulamoni merupakan salah satu hutan hujan tropis yang terdapat di Sulawesi Tenggara. Hutan ini terletak di Desa Lamaeo Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna. Di dalam hutan ini terdapat Danau Lawulamoni yang memiliki diameter sekitar 700 meter dengan bentuk hampir menyerupai lingkaran. Hutan tersebut memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan diantaranya pohon sebagai penyusun utama hutan tersebut.
Hutan di sekitar Danau Lawulawoni ini termasuk dalam hutan hujan dataran rendah dengan tipe substrat berlumpur dan basah. Topografi dari hutan ini hampir seluruhnya datar sehingga apabila musim penghujan datang, radius sekitar satu kilometer dari pinggir danau terendam air. Hutan ini jika ditinjau dari tahapan suksesi sudah mencapai tahapan klimaks dengan vegetasi yang masih primer, belum tercemar dan masih alamiah. Dengan adanya kondisi alam yang seperti itu, menyebabkan keanekaragaman flora yang ada pada hutan ini sangat bervariasi dimana salah satu di dalamnya adalah keanekaragaman jenis pohon.
Dengan adanya keanekaragaman pohon yang ada pada hutan sekitar Danau Lawulawoni tersebut, maka perlu dilakukan suatu kegiatan pencacahan jenis sehingga dapat diketahui jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan tersebut.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis bermaksud untuk melakukan identifikasi jenis pohon yang ada di kawasan hutan sekitar Danau Lawulamoni melalui suatu penelitian yang berjudul : “Jenis-Jenis Pohon Di Kawasan Hutan Sekitar Danau Lawulamoni Di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna“, sekaligus memperkenalkannya dalam rangka pengenalan keanekaragaman, pengembangan dan pelestarian sumber daya alam hayati.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori

1.                  Morfologi Pohon
Pohon merupakan tanaman berkayu yang tumbuh dengan tinggi minimal 5 m (16 kaki), yang mempunyai batang pokok tunggal yang menunjang tajuk berdaun dari cabang-cabang di atas tanah. Pohon dapat hidup selama seratus tahun atau lebih (Greenaway, 1997: 12). Sedangkan menurut Haygreen dan Bowyer (1996: 3), umumnya pohon didefinisikan sebagai tanaman berkayu yang mempunyai tinggi 15 -20 kaki (4,5 - 6 m) atau lebih dengan ciri batang pokok yang tunggal. Pohon termasuk tumbuhan  berbiji (Spermatophyta) dibagi menjadi Gymnospermae dan Angiospermae. Kayu konifer atau kayu lunak termasuk tumbuhan Gymnospermae dan kayu keras termasuk tumbuhan Angiospermae (Sjostrom, 1995: 1-3). Pohon tersusun oleh banyak bagian. Di bawah tanah, akar (radix) mengambil air dan mineral dibawa ke atas yaitu ke daun (folium) melalui batang (caulis) yang dilindungi oleh kulit kayu. Cabang dari batang akan menyokong daun (folium), bunga (Flos) dan buah (fructus) dari pohon tersebut.
a.       Akar  (radix)
Akar adalah bagian pokok yang paling utama (disamping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus.
Pada umumnya akar pada tumbuhan memiliki bagian-bagian seperti : leher akar (collum), ujung akar (apex radicis), batang akar (corpus radicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla radicalis), rambut-rambut akar (pilus radicalis) dan tudung akar (calyptra). Akar pada tumbuhan memiliki beberapa fungsi yaitu memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air dari dalam tanah, mengangkut air dan zat-zat makanan ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan.
Sewaktu tumbuhan masih kecil, yaitu dalam bentuk lembaga di dalam biji, calon akar itu sudah ada dan disebut sebagai akar lembaga (radicula). Pada perkembangan lanjutannya, kalau biji mulai berkecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat memperlihatkan perkembangan yang berbeda hingga pada tumbuhan lazimnya dibedakan dua macam sistem perakaran, yaitu : sistem akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria). Susunan akar ini biasa terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledonae) dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae). Sistem akar serabut, jika akar lembaga yang dalam perkembangan selanjutnya mati dan kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar ukurannya dan semuanya keluar dari pangkal batang. Akar-akar ini karena bukan berasal dari calon akar yang asli dinamakan akar liar. Bentuknya seperti serabut, oleh karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia) dan biasanya dijumpai pada tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledoneae) (Tjitrosoepomo, 2003:91-93).
b.      Batang (caulis)
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, dan mengingat tempat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Di dalam batang terdapat dua macam pembuluh yang digunakan untuk membawa zat-zat makanan dari akar ke daun dan sebaliknya yaitu pembuluh kayu yang terdapat pada lapisan kayu yang berfungsi menghantarkan air dan zat-zat makanan dari akar ke bagian atas tubuh tumbuhan dan pembuluh tapis yang terdapat pada lapisan kulit yang berfungsi menghantarkan hasil asimilasi yang terjadi di daun ke seluruh bagian bawah tubuh tumbuhan. Selain sebagai alat transportasi bagi tumbuhan, batang juga memiliki fungsi lain yaitu mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah yaitu daun, bunga dan buah serta dengan percabangannya dapat memperluas bidang asimilasi.
Tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) pada umumnya mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang, yang dapat mempunyai percabangan atau tidak. Tumbuhan biji tunggal (monocotyledoneae) sebaliknya mempunyai batang yang dari pangkal sampai ke ujung boleh dikatakan tak ada perbedaan besarnya. Hanya pada beberapa golongan saja yang pangkalnya nampak membesar, tetapi selanjutnya ke atas tetap sama (Tjitrosoepomo, 2003 : 76-79).
c.       Daun (folium)
Daun merupakan suatu bagian tanaman yang penting dan pada umumya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan. Daun pada tanaman memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai alat pengambilan zat-zat makanan (reasorbsi) terutama yang berupa gas CO2, pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), penguapan air (transpirasi) dan pernafasan (respirasi). Tumbuhan mengambil zat-zat makanan dari lingkungannya dan zat yang diambil (diserap) tadi adalah zat-zat yang bersifat anorganik. Air beserta garam-garam diambil dari tanah oleh akar sedangkan gas asam arang (CO2) yang merupakan zat makanan pula bagi tumbuhan diambil dari udara melalui celah-celah yang halus yang disebut mulut daun (stoma) masuk ke dalam daun. Zat-zat seperti gas asam arang (CO2) belum sesuai dengan keperluan tumbuhan. Oleh sebab itu, harus diubah, diolah dijadikan zat-zat organik yang sesuai dengan kepentingan tumbuhan. Pengolahan zat anorganik menjadi zat organik ini dilakukan oleh daun (sesungguhnya zat hijau daun atau klorofil) dengan bantuan sinar matahari hal ini disebut asimilasi (Tjitrosoepomo, 2003: 7-9). Untuk tugas daun ini diperlukan bantuan sinar matahari, maka untuk itu daun pada umumnya berbentuk pipih, lebar dan selalu menghadap ke atas untuk dapat menangkap sinar matahari sebanyak-banyaknya.
d.      Bunga (flos)
Bunga (flos) merupakan alat perkembangbiakan dari tumbuh-tumbuhan, karena bunga dapat berkembang menjadi buah yang berisi biji, dari biji dapat tumbuh tanaman baru. Bunga dapat dipandang sebagai suatu batang atau cabang pendek yang berdaun dan telah banyak mengalami perubahan bentuk. Struktur bunga biasanya terdiri dari kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), putik (pistielum). Pada umumnya benang sari dipandang sebagai alat kelamin jantan karena menghasilkan serbuk sari sedangkan putik dikatakan sebagai alat kelamin betina karena menghasilkan bakal buah (ovarium) yang berisi bakal biji (ovulum) yang mengandung sel telur (ovum). Bilamana benang sari melebur bersama putik (terjadi penyerbukan), maka bakal buahnya dapat tumbuh menjadi buah dan bakal bijinya akan tumbuh menjadi biji. Bunga yang mempunyai benang sari dan putik disebut berkelamin dua (bisexualis) sedangkan yang hanya membentuk satu macam alat kelamin yaitu hanya benang sari atau hanya putik saja dinamakan berkelamin satu (unisexualis) (Darjanto dan Satifah, 1984: 17).
e.       Buah (fructus)
Jika penyerbukan pada bunga telah terjadi dan kemudian diikuti pula oleh pembuahan, maka bakal buah akan berkembang menjadi buah dan bakal biji yang terdapat dalam bakal buah akan berkembang menjadi biji. Kebanyakan tumbuhan berbunga memiliki buah kerucut berbentuk bola dan bila telah masak akan jatuh bercerai-berai, sedangkan pada tumbuhan biji tertutup memiliki buah majemuk yang tersusun dari buah batu atau buah buni (van Steenis, 2005: 91-94).
Pada umumnya buah hanya akan terbentuk sesudah terjadi penyerbukan dan pembuahan pada bunga, namun ada pula buah yang terbentuk tanpa melalui adanya penyerbukan atau pembuahan. Buah yang semata-mata terbentuk dari bakal buah, umumnya merupakan buah yang tidak terbungkus, jadi merupakan buah yang telanjang. Buah ini juga dinamakan buah sejati atau buah sungguh. Sedangkan bakal buah yang bagian bunganya ikut mengambil bagian dalam pembentukkan buah bahkan seringkali merupakan bagian buah yang paling menarik perhatian dinamakan buah palsu atau buah semu (Tjitrosoepomo, 2003: 218-219).
f.       Biji (semen)
Setelah terjadi penyerbukan yang diikuti dengan pembuahan, bakal buah tumbuh menjadi buah, dan bakal biji tumbuh menjadi biji. Bagi tumbuhan biji (Spermatophyta), biji ini merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena biji mengandung calon tumbuhan baru (lembaga). Dengan dihasilkannya biji, tumbuhan dapat mempertahankan jenisnya dan dapat pula berpencar ke tempat lain. Pada biji, umumnya terdapat bagian-bagian seperti kulit biji (spermodermis), tali pusar (funiculus) dan inti biji atau isi biji (nucleus seminis). Pada tumbuhan biji tertutup (Angiospermae), kulit bijinya terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen), sedangkan pada tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae), kulit bijinya terdiri atas tiga lapisan yaitu lapisan kulit luar (sarcotesta), lapisan kulit tengah (sclerotesta), dan lapisan kulit dalam (endotesta) (Tjitrosoepomo, 2003: 242-244).
2.      Fisiognomi
Fisiognomi dapat diartikan sebagai penampakan luar dari vegetasi yang dapat dicirikan oleh beberapa hal, antara lain: tinggi pohon, pola percabangan, bentuk daun dan model/bentuk tajuk.
a.       Klasifikasi Pohon
Menurut Dengler yang dikutip Junus dkk (1985: 38), pohon adalah tumbuhan yang mempunyai akar, batang dan tajuk nyata, dengan tinggi minimum 5 meter, berdasarkan tingkat pertumbuhan setiap jenis pohon dapat dibedakan ke dalam berbagai fase.
Berikut adalah standar atau ukuran untuk setiap fase berdasarkan tingkat pertumbuhannya:
a)      Tingkat semai (seedlings), tinggi sampai 1,5 m.
b)      Tingkat sapihan, tinggi > 1,5 m dengan diameter batang < 10 cm .
c)      Tingkat tihang (poles) jika mempunyai diameter batang 10 cm – 19 cm
d)     Tingkat pohon (trees), jika mempunyai diameter batang  20 cm.
                        (Arief, 2001: 39).

3.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Tumbuhan
Penyebaran tumbuhan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor tanah, faktor iklim, faktor topografi dan faktor biotik.
a)      Faktor tanah
Tanah merupakan tempat tumbuh dan persediaan unsur  hara, air, mineral dan lain-lain yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Selain itu, kondisi tanah serta kadar air tanah dapat mempengaruhi penyebaran tumbuhan.
b)      Faktor iklim
Iklim adalah faktor yang sangat penting dalam penyebaran tumbuh-tumbuhan. Faktor iklim meliputi parameter iklim utama seperti curah hujan, suhu, kelembaban udara, angin dan cahaya. Selain itu iklim dapat mempengaruhi sifat fisik tanah (struktur dan tekstur), drainase dan konsistensi serta sifat kimia tanah. Iklim mikro dari suatu tempat yang dipengaruhi oleh topografi dapat mempengaruhi penyebaran dan pertumbuhan tumbuhan.
c)      Faktor topografi
Topografi tanah sangat mempengaruhi komposisi dan kesuburan tanah sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan tegakan. Topografi lahan yang bergelombang dapat mempengaruhi iklim dibanding dengan yang datar. Keadaan seperti ini jelas akan mempengaruhi penyebaran tumbuhan di sekitarnya. Faktor topografi ini meliputi sudut kemiringan lahan, aspek kemiringan lahan dan ketinggian tempat dari permukaan laut.
d)     Faktor biotik
Faktor biotik merupakan gambaran dari semua interaksi seperti kompetisi dan peneduhan. Menurut Soeryanegara dan Irawan (1998) jenis-jenis pohon tertentu mempunyai suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan jenis-jenis pohon yang lain dan juga kemungkinan dapat menghambat pertumbuhan anakannya sendiri. Pengaruh dari zat yang menghambat disebut allelopathy.
4.      Taksonomi Tumbuhan
Berbagai tingkat kemiripan dan perbedaan mudah dapat dilihat pada sejumlah tumbuh-tumbuhan yang sedang bercampur. Berdasarkan keserupaan dan perbedaanya itu tumbuhan dapat dibagi menjadi golongan kecil dan golongan besar. Namun untuk keperluan lain tidaklah cukup hanya di sini saja. Dalam suatu golongan perlu pula diketahui dan dibedakan setiap spesiesnya.
Untuk memungkinkan kita memberi nama dan membahas secara efektif keanekaragaman tumbuhan yang hampir tidak terbatas yang menghuni bumi ini, perlu tumbuhan ini dipilih-pilih menjadi kelompok-kelompok yang dari masing-masing kelompok itu tumbuhan tampak menunjukkan kekerabatan paling dekat atau setidak-tidaknya dari luar menunjukkan kemiripan yang paling besar (Polunin, 1994: 30).
Menurut Ishemet yang dikutip Husna (1989: 7) taksonomi tumbuhan; termasuk floristik dan dendrologi sangat diperlukan terutama untuk dapat mengenal jenis-jenis pohon dan tumbuhan lainnya di hutan. Selanjutnya dikatakan bahwa cara pengenalan jenis-jenis pohon dalam buku flora lebih di titik beratkan pada sifat generatif (reproduktif), yaitu berdasarkan sifat-sifat bunga, tetapi sering dijumpai pohon-pohon yang sukar didapatkan bunga maupun buahnya misalnya karena sedang dalam keadaan tidak berbunga, maka selain didasarkan atas sifat-sifat generatif juga dapat didasarkan pada sifat-sifat vegetatifnya yaitu berdasarkan pada akar, batang dan daunnya. Selain itu keberadaan penduduk setempat sangat berarti dalam membantu pengenalan jenis pohon dan vegetasi lainnya pada suatu tempat.
Menurut Tjitrosoepomo (2001: 254-255), ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam melakukan penyederhanaan obyek studi berupa tumbuhan  yang beraneka ragam yaitu pengklasifikasian (pengelompokan), identifikasi dan pemberian nama (Nomenclature). Tiga kegiatan inilah yang merupakan tugas utama ilmu sistematik atau taksonomi tumbuhan.
a)      Pengklasifikasian
Klasifikasi adalah pengelompokkan tumbuhan berdasarkan persamaan dan perbedaan morfologi, anatomi, fisiologi, habitat dan distribusi.
b)      Identifikasi
Identifikasi adalah pengenalan suatu tumbuhan berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut.
c)      Penamaan (Nomenclature)
Penamaan adalah upaya pemberian nama suatu jenis tumbuhan berdasarkan jenjang takson masing-masing. Peraturan penamaan tumbuhan diatur dalam kode Internasional Tatanama Tumbuhan (International Code of Botanical Nomenclature) yang merupakan kesepakatan para ahli tumbuhan seluruh dunia.
B.     Kajian Empiris
Penelitian   Landimuru    (1990)   mengemukakan bahwa pada hutan di Desa Kasipute Wilayah Kecamatan Wawotobi ditemukan sebanyak 47 Jenis pohon yang terdiri atas 45 jenis dari kelas Dicotyledonae dan 2 jenis dari kelas Monocotyledonae.
C.    Kerangka Pemikiran
Kawasan hutan di sekitar Danau Lawulamoni terdapat beranekaragam flora, diantaranya adalah pohon, dimana pohonnya beraneka ragam jenisnya. Keragaman jenis pohon tersebut perlu diidentifikasi dengan tujuan agar dapat mengetahui jenis-jenis pohon apa saja yang tumbuh pada kawasan hutan tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lapangan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pohon yang ada dengan mengacu pada ciri-ciri morfologi yang ditunjukkan oleh pohon tersebut. Melalui kegiatan identifikasi ini diharapkan dapat membedakan jenis pohon yang satu dengan yang lainnya, sehingga dapat memberikan informasi yang tepat mengenai keanekaragaman jenis-jenis pohon yang ada di kawasan hutan sekitar Danau Lawulamoni di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.









Hutan kawasan Danau  Lawulamoni Kec. Kabawo Kab. Muna

 
Secara ringkas dari uraian di atas dapat digambarkan dalam bentuk bagan dibawah ini:           


 




Text Box: Tumbuhan rendahText Box: Herba
Tumbuhan berkayu
 
Text Box: LianaText Box: Epifit              

 

  
Text Box: Pancang
(Tinggi >1,5 m dengan diameter < 10) cm)
Text Box: Semai
(Tinggi sampai 1,5 m)
Text Box:  Tihang
(Diameter 10 cm-19 cm)
 



                             
Keanekaragaman
 
 










            Keterangan :
                        = Variabel yang diteliti
                        = Variabel yang tidak diteliti

Gambar 1. Kerangka Pemikiran





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 13 September sampai 20 Desember 2010. Bertempat di kawasan hutan sekitar Danau Lawulamoni Desa Lamaeo Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna dan dilanjutkan di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi FKIP Unhalu dengan melakukan identifikasi jenis-jenis pohon yang diteliti. 
B.     Obyek, Definisi Operasional dan Indikator Penelitian

1.      Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah jenis-jenis pohon yang terdapat di kawasan hutan sekitar Danau Lawulamoni di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.

2.      Definisi operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam penelitian ini, maka perlu dikemukakan definisi operasional sebagai berikut:
a.       Identifikasi jenis pohon adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menetapkan nama dari setiap jenis-jenis pohon berdasarkan sifat dan ciri morfologi setiap jenis pohon yang ditemukan di lokasi penelitian.
b.      Pohon yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tumbuhan yang memiliki diameter batang mulai 20 cm ke atas yang terdapat di lokasi penelitian.



3.      Indikator Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi indikator atau parameter adalah bentuk morfologi pohon yang meliputi akar, batang dan daun, serta karakteristik lingkungan antara lain suhu udara, kelembaban udara dan pH tanah serta tipe substrat.
C.    Populasi dan Sampel

1.      Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua jenis pohon yang berada di kawasan hutan sekitar Danau Lawulamoni di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.

2.      Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah terbatas hanya pada tumbuhan yang tergolong dalam kategori jenis pohon yang terdapat pada kawasan hutan di sekitar Danau Lawulamoni di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.

D.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi dengan teknik pengumpulan data dengan cara jelajah di lokasi penelitian. Penjelajahan dilakukan melalui rintisan menembus hutan. Lokasi jelajah yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan hutan dan informasi dari masyarakat setempat yang mengenal hutan ini.





E.     Instrumen Penelitian dan Prosedur Pengumpulan Data

1.      Instrumen Penelitian
Alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel beikut ini.
 Tabel 1. Alat  dan bahan yang digunakan dalam penelitian beserta fungsinya.
No
Jenis
Nama
Fungsi
1.
Alat


Alat tulis menulis
Untuk mencatat
2.
Buku-buku identifikasi
Acuan identifikasi
3.
Kamera
Alat dokumentasi
4.
Luxmeter
Untuk mengukur intensitas cahaya
5.
Meter rol/mistar
Untuk mengukur keliling pohon.
6.
Parang
Merintis areal penelitian
7

Kertas lakmus
Untuk mengukur pH tanah
8

Thermohygrometer
Sebagai pengukur suhu dan kelembapan udara
1
Bahan

Etiket gantung
Tempat untuk menulis nomor sampel
2
Kantong plastik
Sebagai tempat sampel
3
Pohon
Sebagai objek yang akan diidentifikasi








2.      Prosedur Pengumpulan Data
a.       Mengadakan penjelajahan dengan menelusuri hutan di sekitar Danau Lawulamoni mulai dari pinggir danau ke daerah hutan primer yang bersubstrat kering.
b.      Mencantumkan label atau tanda pada setiap pohon yang ditemukan, dengan disertai dokumentasi bagian morfologi secara keseluruhan dari tiap jenis sampel yang ditemukan beserta tipe substrat tempat tumbuhnya.
c.       Mengukur lingkaran pohon dengan meteran rol.
d.      Mengukur dan mencatat parameter lingkungan di tiga tempat berbeda yaitu di pinggir danau, di daerah yang bisa terendam air dan di daerah yang agak kering.
e.       Mengidentifikasi jenis pohon yang ditemukan berdasarkan buku kunci determinasi yang sesuai (Tjitrosoepomo, 1995. Anonim, 2004. PIKA, 1981) dengan mencatat ciri-ciri morfologi yang tampak pada pohon yang ditemukan.

F.     Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif; yakni menggambarkan karakteristik pohon yang ditemukan berdasarkan ciri-ciri morfologi yang ada dan mencocokkan dengan buku-buku identifikasi, beserta karakteristik lingkungan tempat tumbuhnya.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Umum Lokasi Penelitian
Kawasan hutan di sekitar danau lawulamoni merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis dataran rendah yang memiliki kondisi alam yang masih alami. Hutan ini terletak di Desa Lamaeo Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna. Di sebelah Utara, hutan ini berbatasan dengan desa Kontumere. Di sebelah Timur, hutan ini berbatasan dengan Desa Lamaeo. Di sebelah Barat, hutan ini berbatasan dengan Desa Lamano sedangkan pada bagian Selatan, hutan ini berbatasan dengan Desa Wantiworo. Di dalam hutan ini terdapat danau Lawulamoni yang memiliki diameter sekitar 700 meter dengan bentuk hampir menyerupai lingkaran.
Danau Lawulamoni memiliki nilai historis yang sangat tinggi dimata para penduduk setempat, mereka mempercayai bahwa danau ini dahulunya adalah sebuah perkampungan kecil yang tenggelam karena terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh seorang wanita bernama Wd. Ngkosesu. Ceritanya, wanita yang bernama Wd. Ngkosesu ini adalah wanita yang sedari lahir tidak boleh menginjak tanah, istilah dalam bahasa Munanya “Robine kaghome lima kaghome ghaghe”, namun karena sesuatu hal, wanita tersebut melanggarnya. Akhirnya kampung yang dia tinggali tenggelam dan wanita yang bernama Wd. Ngkosesu tersebut berubah menjadi seekor buaya yang sangat besar yang menurut penduduk setempat yang tinggal di sekitar Danau Lawulamoni, besarnya buaya Wd. Ngkosesu ini adalah 20 x 4 m. Hutan sekitar Danau Lawulamoni ini masih tergolong jenis hutan primer yang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang cukup tinggi, dimana diantaranya adalah pohon yang merupakan penyusun utama hutan tersebut.
Parameter lingkungan yang diukur pada lokasi pengambilan sampel penelitian yaitu intensitas cahaya berkisar 124.600-157.600 Lux, kelembaban udara berkisar 70%-81%, suhu udara berkisar 280C-290C dan pH tanah berkisar 5,8-6,5. Parameter lingkungan ini diambil pada saat akhir musim kemarau yaitu pada tanggal 5-6 Oktober 2008.
B.     Jenis-jenis Pohon Yang Ditemukan di Lokasi Penelitian
Jenis-jenis pohon yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 14 familia, 19 genus dan dan 38 jenis, dimana 21 jenis yang teridentifikasi dengan nama ilmiah sedangkan 17 jenis lainnya hanya teridentifikasi dengan nama lokal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.
      Tabel 2. Jenis-jenis pohon yang ditemukan di lokasi penelitian.
No
Famili
Nama Jenis (Latin)
Nama Indonesia
Nama Lokal
(Muna)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
1
Anacardiaceae
Buchania arborescens Linn
Mangifera indica Linn.
Koordersiodendron pinnatum Merr.

Mangga
Bugis
Ninifoo
Foo
Ghui
2
Annonaceae
Cananga odorata Hook.
Kenanga
Ghondolia
3
Caesalpiniceae
Intsia sp.
Merbau
Ghefi
4
Dilleniaceae
Dellenia ellipticaf
Singi
Soni
5
Ebenaceae
Diospyros pilosanthera Blanco.
Kayu hitam
Ghito-ghito
6
Mimosaceae
Albizzia saponaria

Wilalo
7
Moraceae
Artocarpus teysmanii Miq.
Ficus sp.
Nangka air
Ghotifulu
Moraa
8
Myristicaceae
Myristica iners BI.
Kayu darah
Sau rea
9
Myrtaceae
Eugenia aquea
Kjellbergiodendron
Jambu air
Metombo
Tembeua
10
Rosaceae
Parinari corymbosum Miq.
Kolaka
Kolasa
11
Rubiaceae
Anthocephalus cadamba Miq.
Anthocephalus macrophyllus Nauclea orientalis Linn.
Jabon

Gempol
Worotua
Dongkala
Dongkina
12
Sapindaceae
Pometia Pinnata Forst.
Matoa
Kase
13
Tiliaceae
Tricherspernum sp.

Bunu
14
Verbenaceae
Vitex cofassus Reinw.
Vitex glabarata Roxb.
Ghofasa
Fafa
Tumpira
Bebele
Bhuli Ngkowala
Buntuti
Ghewe
Ghoghone
Ghunubeli
Katinda
Mandula
Meno
Nawo
Rangkano Vetegho
Sau kapaya
Saumpaghi
Sumbawa
Wentei
Wiolo
Wugho

C.    Deskripsi Jenis-Jenis Pohon di Lokasi Penelitian
1.      Albizzia saponaria, Wilalo (Muna)
Akar; tunggang, berbanir Batang ; bulat, warna batang coklat kehiataman, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 31,8 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, , ujung daun tumpul, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai bahan bangunan.
2.      Anthocephalus cadamba Miq, Worotua (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, permukaan kulit batang kasar, beralur dalam,  diameter batang terukur 28 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.

3.      Anthocephalus macrophyllus, Dongkala (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, permukaan kulit batang kasar, sedikit beralur, diameter batang terukur 58,3 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur terbalik, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun berbulu halus, permukaan tangkai daun berbulu halus. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab dan kering.
4.      Artocarpus teysmanii Miq, Ghotifulu (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu keputihan, bergetah warna putih, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 79,6 cm, pola percabangan monopodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, , ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun kasap. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai bahan bangunan rumah tangga, papan dan bahan perahu.
5.      Buchania arborescens Linn, Ninifoo (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang kecoklatan, permukaan kulit batang agak kasar, kulitnya akan memerah jika dikelupas, diameter batang terukur 39,2 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan kering. Tumbuhan ini biasa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan

6.      Cananga odorata Hook, Ghondolia (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, berbau aromatis, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 33,4 cm, pola percabangan monopodial. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan berawa.
7.      Dellenia ellipticaf, Soni (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, permukaan kulit batang agak halus, kulit batangnya akan memerah jika dikelupas, diameter batang terukur 28,3 cm, pola percabangan simpodial. Daun; majemuk berseling, bangun memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi daun bergiri, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Tumbuhan ini biasa juga dikenal dengan nama pohon nona karena pada saat ditebang, batang dari pohon ini mengeluarkan suara seperti suara wanita yang sedang buang air kecil. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan kering. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan buahnya dapat dikonsumsi oleh manusia.
8.      Diospyros pilosanthera Blanco, Ghito-Ghito (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang hitam kecoklatan, berbau, permukaan kulit batang kasar, beralur,  diameter batang terukur 48,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun meruncing, pangkal daun meruncing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin suram, daging daun tebal seperti kulit. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai kayu perkakas, seni ukir dan pahat.
9.      Eugenia Aquaea, Metombo (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang abu-abu keputih-putihan, permukaan kulit batang agak halus, diameter batang terukur 25,5 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk menyirip, bangun jorong, duduk daun menyirip berselang-seling ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip berselang-seling, warna hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang agak lembab dan kering.
10.  Ficus sp, Moraa (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat keputihan, bergetah putih, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 57,3 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
11.  Intsia sp, Ghefi (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang merah kecoklatan, permukaan kulit batang agak kasar, diameter batang terukur 57,3 cm, kayunya sangat keras sehingga biasa dikatakan sebagai kayu besi yang memiliki kualitas paling bagus diantara kayu-kayu yang lain, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun tumpul, pangkal daun membulat, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau tua, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Jenis kayunya biasanya dimanfaatkan sebagai kayu bangunan, kayu perkapalan dan jembatan.

12.  Kjellbergiodendron, Tembeua (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, permukaan kulit batang sangat kasar, kulit batang terkelupas, diameter batang terukur 23,9 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk menyirip, bangun jorong, ujung daun runcing, pangkal daun membulat, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip berselang-seling, warna hijau kekuningan, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
13.  Koordersiodendron pinnatum Merr, Ghui (Muna)  
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu keputih-putihan, permukaan kulit batang agak kasar, diameter batang terukur 55,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang,  ujung daun meruncing, pangkal daun meruncing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau kekuningan, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang agak lembab dan kering. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu perkapalan.
14.  Mangifera indica Linn, Foo (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, bergetah hitam, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 81,8 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Buahnya dapat dikonsumsi oleh manusia. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan kering.

15.  Myristica iners BI,  Saurea (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, bergetah merah, permukaan kulit batang agak kasar, diameter batang terukur 28,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab.
16.  Nauclea orientalis Linn, Dongkina (Muna)
 Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu keputihan, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 71,1 cm, pola percabangan monopodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun bulat, pangkal daun rata, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
17.  Parinaria corymbosum Miq,  Kolasa (Muna)
Akar; tunggang, berbanir, sedikit berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat, permukaan kulit batang agak kasar, beralur, diameter batang terukur 52,2 cm, pola percabangan simpodial. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah basah, lembab, dan kering. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan jembatan.
18.  Pometia Pinnata Forst,  Kase (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang merah kecoklatan, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 40,4 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun berlekuk, tepi daun bergiri, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan kering. Jenis kayunya biasa digunakan sebagai bahan bangunan, kayu perkakas dan kayu perkapalan.
19.  Tricherspernum sp,  Bunu (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang putih kehijauan, permukaan kulit batang agak kasar, diameter batang terukur 36,3 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jantung, ujung daun meruncing, pangkal daun berlekuk, tepi daun bergiri, pertulangan daun menyirip, jika masih muda daun dari tumbuhan ini berwarna merah setelah dewasa daunya berubah menjadi warna hijau, permukaan daun bagian atas licin mengkilat sedangkan permukaan daun bagian bawah berbulu halus. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab.
20.  Vitex cofassus Reinw,  Fafa (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, permukaan kulit batang agak kasar, diameter batang terukur 95,5 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab terutama di pinggir rawa. Jenis kayu ini sangat baik untuk dijadikan sebagai bahan bangunan karena kayunya yang cukup kuat dan tahan lama.




21.  Vitex glabarata Roxb,  Tumpira (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehitaman, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 63,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk menjari beranak daun lima, bangun memanjang, ujung daun tumpul, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan.
22.  Ghewe (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat keputihan, permukaan kulit batang kasar, kulit batangnya selalu mengelupas, diameter batang terukur 27,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur terbalik, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
23.  Meno (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, bergetah putih, permukaan kulit batang kasar, beralur, batang bagian dalam berwarna merah muda, diameter batang terukur 25,5 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.


24.  Wugho (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang kecoklatan, permukaan kulit batang agak kasar, kulit batangnya selalu mengelupas, batang bagian dalam berwarna coklat, diameter batang terukur 20,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
25.  Bebele (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat keputihan, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 28,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab.
26.  Bhuli Ngkowala (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat kebu-abuan, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 45,2 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab. Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan.
27.  Buntuti (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat kehitaman, bergetah putih dan beracun (dapat memabukan), permukaan kulit batang sangat kasar, beralur, batang bagian dalam berwarna merah kecoklatan, diameter batang terukur 42,4 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; Bangun lanset, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
28.  Ghoghone (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan, permukaan kulit batang kasar, batang bagian dalam berwarna merah kecoklatan, diameter batang terukur 22,3 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
29.  Ghunubeli (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat kehitaman, tidak bergetah, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 31,8 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun membulat, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
30.  Katinda (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, permukaan kulit batang agak kasar, beralur, diameter batang terukur 55,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin mengkilat. Buah: Tekstur kulit buah sangat keras, berwarna hitam, daging buahnya berwarna putih dan memiliki aroma yang khas. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab, rawa dan berlumpur. Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan buahnya dapat dikonsumsi oleh manusia.
31.  Mandula (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat, permukaan kulit batang agak kasar, beralur, diameter batang terukur 27,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab. Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan jembatan serta daunnya dapat dikonsumsi oleh manusia.
32.  Nawo (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan, bergetah, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 47,1 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah lembab.
33.  Rangkano Vetegho (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang abu-abu keputihan dengan noda-noda hijau, permukaan kulit batang kasar, kulit kayunya memiliki lapisan yang tebal yang memiliki tekstur seperti serbuk gergaji, diameter batang  terukur 47,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin suram. Habitat; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
34.  Sau kapaya (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat keputihan, berbau, permukaan kulit batang kasar, beralur,  batang bagian dalam berwarna agak kekuningan, diameter batang terukur 85,9 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun runcing, pangkal daun rompang (rata), tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
35.  Saumpaghi (Muna)
Akar; tunggang. Batang ; bulat, warna batang coklat keabu-abuan, berbau, permukaan kulit batang agak halus mengkilat, diameter batang terukur 27,7 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun jorong, ujung daun tumpul, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
36.  Sumbawa (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang abu-abu kehijauan dengan noda-noda putih, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 27,4 cm, pola percabangan monopodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun membulat, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun licin mengkilat. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab dan kering.

37.  Wentei (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang hijau kehitaman, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 38,9 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun bulat telur, ujung daun tumpul, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna hijau, permukaan daun gundul. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang agak lembab dan kering.
38.  Wiolo (Muna)
Akar; tunggang, berbanir. Batang ; bulat, warna batang coklat kehijauan dengan noda putih, permukaan kulit batang kasar, diameter batang terukur 47,1 cm, pola percabangan simpodial. Daun ; majemuk, bangun memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau, permukaan daun licin suram. Habitat ; tumbuhan ini pada umumnya tumbuh pada tanah yang lembab.
D.                Pembahasan
Kawasan hutan di sekitar Danau Lawulamoni merupakan hutan hujan tropis yang memiliki substrat berlumpur dan basah (Komunikasi pribadi yang dilakukan dengan narasumber yang mengetahui daerah tersebut). Hutan tersebut memiliki beranekaragam jenis tumbuhan, salah satunya adalah keanekaragaman jenis pohon. Di dalam hutan ini terdapat Danau Lawulamoni yang memiliki diameter sekitar 700 meter dengan bentuk hampir menyerupai lingkaran. Danau ini memiliki nilai historis yang tinggi dimata para penduduk setempat. Topografinya relatif datar dan jauh dari permukiman penduduk.
Jenis-jenis pohon yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 14 familia, 19 genus dan 38 jenis, dimana 21 jenis yang teridentifikasi dengan nama ilmiah sedangkan 17 jenis lainnya hanya teridentifikasi dengan nama lokal dan semuanya dari kelas Dicotyledoneae. Jenis-jenis pohon yang ditemukan adalah berasal dari famili Anacardiaceae, Annonaceae, Caesalpiniceae, Dilleniaceae, Ebenaceae, Mimosaceae, Moraceae, Myristicaceae, Myrtaceae, Rosaceae, Rubiaceae, Sapindaceae, Tiliaceae, dan Verbenaceae.
Famili Anacardiaceae merupakan kelompok tumbuhan Dikotil yang memiliki ciri khas yaitu pohon mengandung resin, pada saat keluar resin berwarna bening kemudian lama-kelamaan berubah menjadi hitam dan mengeras, umumnya beracun (Anonim, 2004: 47). Daun tunggal atau majemuk, berseling atau berhadapan, tidak memiliki daun penumpu. Jenis yang ditemukan adalah Mangifera indica Linn, Buchania arborescens Linn. dan Koordersiodendron pinnatum Merr.
Famili Annonaceae memiliki ciri khas yaitu kayu dan daun berbau aromatis (berbau harum). Jenis yang ditemukan adalah Cananga odorata Hook.
Famili Caesalpiniceae, Jenisnya yang ditemukan adalah Intsia sp, pohon ini memiliki kayu yang cukup kuat dan biasanya disebut sebagai kayu besi. Famili Dilleniaceae, jenisnya yang ditemukan adalah Dellenia ellipticaf, jenis ini memiliki ciri khas yaitu jika ditebas, maka batangnya akan mengeluarkan suara (mendesis). Famili Ebenaceae memiliki ciri khas yaitu sebagian anggotanya memiliki kulit batang berwarna hitam (sering disebut kayu hitam atau kayu arang). Jenis yang ditemukan adalah Diospyros pilosanthera Blanco.
Famili Moraceae memiliki ciri khas yaitu bergetah putih. Jenis yang ditemukan adalah Artocarpus teysmanii Miq, jenis ini paling banyak ditemukan di lokasi penelitian terutama di pinggir danau, karena pada umumnya habitat dari tumbuhan ini adalah di daerah yang tanahnya memiliki kandungan air yang tinggi, hal ini sesuai dengan kondisi tanah yang berlumpur dan basah yang ada di hutan Sekitar Danau Lawulamoni sehingga jenis ini paling banyak ditemukan dilokasi penelitian. Jenis lain yang ditemukan adalah Ficus sp.
Famili Myristicaceae memiliki ciri khas yaitu sayatan pada batang akan menghasilkan cairan berwarna merah. Jenis yang ditemukan adalah Myristica iners BI. Famili Myrtaceae memiliki ciri khas yaitu kulit batang selalu mengelupas tipis dan permukaan batang setelah kulit mengelupas terasa licin. Jenis yang ditemukan adalah Eugenia aquea dan Kjellbergiodendron. Famili Rubiaceae, jenisnya yang ditemukan adalah Nauclea orientalis L, tumbuhan ini memiliki kandungan air yang sangat tinggi pada batangnya, jenis lain yang ditemukan adalah Anthocephalus cadamba Miq dan Anthocephalus macrophyllus.
Famili Sapindaceae berdaun majemuk, bunga kecil tersusun dalam malai, buahnya bervariasi, buah kotak dan buah batu. Jenis yang ditemukan adalah Pometia Pinnata Forst. Famili Verbenaceae memiliki ciri khas yaitu ranting daun bersegi empat (quadrangular), jenis yang ditemukan adalah Vitex cofassus Reinw dan Vitex glabarata Roxb.
Hutan di sekitar Danau Lawulamoni ini merupakan hutan hujan tropis dataran rendah yang lembab dan memiliki substrat berlumpur dan basah sehingga hampir semua jenis pohon yang ditemukan di hutan sekitar Danau Lawulamoni ini berakar banir. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Whitten, dkk (1984:370) bahwa hutan dataran rendah, khususnya di daerah-daerah yang lembab, dicirikan oleh pohon-pohon besar berakar banir. Dengan adanya akar banir ini juga dapat menahan laju air permukaan yang membawa substrat-substrat yang dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah permukaan.
Banyaknya jenis pohon yang ditemukan di hutan sekitar Danau Lawulamoni ini disebabkan karena hutan ini masih tergolong hutan primer, yang keadaan vegetasinya masih sangat alami serta keseimbangan ekosistem yang ada di dalam hutan ini masih sangat terjaga dengan baik dan penduduk setempat juga tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat merusak vegetasi yang ada di hutan tersebut.
Selain itu, keberadaan pohon-pohon pada daerah tersebut tidak terlepas dari adanya faktor-faktor lingkungan yang mendukung. Faktor lingkungan tersebut meliputi faktor iklim dalam hal ini mencakup aspek cahaya, suhu dan kelembaban. Faktor tanah yang mencakup karakteristik tanah serta sifat kimia tanah.
Cahaya merupakan faktor lingkungan yang sangat penting sebagai sumber energi utama bagi ekosistem. Dimana bagi tumbuhan dengan adanya cahaya maka proses fotosintesis dapat berjalan dengan baik. Cahaya dapat menjadi faktor pendukung bagi kelangsungan tumbuhan, namun dapat pula menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan tersebut. Adapun faktor cahaya yang terukur pada saat pengambilan sampel pada kawasan hutan tersebut yakni berkisar antara 124.600-157.600 Lux.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap organisme hidup. Berperan langsung hampir pada setiap fungsi dari tumbuhan dengan mengontrol laju proses kimia dalam tumbuhan tersebut, sedangkan peran tidak langsungnya yakni dalam mempengaruhi faktor-faktor lingkungan lainnya terutama suplai air. Suhu mempengaruhi laju evaporasi dan menyebabkan tidak saja keefektifan hujan tetapi juga laju kehilangan air dari organisme hidup. Suhu di suatu daerah tidak terlalu berbeda jauh dengan suhu tumbuhan, hal ini disebabkan karena adanya pertukaran udara dari dalam tubuh tumbuhan dengan lingkungan sekitarnya (Syafei, 1994: 139). Untuk suhu udara yang terukur di kawasan hutan tersebut yakni 280C-290C dengan kelembaban udara berkisar 72%-81%.
Pada tanah-tanah di daerah yang beriklim panas dan kering biasanya pH berkisar disekitar netral sampai dengan basa kuat sebagai akibat dari kekurangan hujan yang mampu menghanyutkan basa. Sedangkan tanah-tanah di iklim sejuk dan basah, pH tanahnya berkisar sekitar asam lemah sampai asam kuat (Syafei, 1994: 179). Seperti pada daerah pengambilan sampel, dimana pH tanahnya berkisar antara 5,8-6.














BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan yaitu jenis-jenis pohon yang terdapat di Kawasan Hutan Sekitar Danau Lawulamoni Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna berjumlah 14 familia, 19 genus dan dan 38 jenis, dimana 21 jenis yang teridentifikasi dengan nama ilmiah sedangkan 17 jenis lainnya hanya teridentifikasi dengan nama lokal dan semuanya dari kelas Dicotyledoneae. Faktor lingkungan yang terukur dan mendukung untuk keberadaan jenis-jenis pohon tersebut adalah suhu udara berkisar antara 280C-290C dengan kelembaban udara berkisar 72%-81%, pH tanah berkisar antara 5,8-6, serta intensitas cahaya berkisar antara 124.600-157.600 Lux.  
B.     Saran
Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis-jenis lain yang berupa semak, perdu, sapihan dan tihang.












DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004. Dendrologi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Yogyakarta.
Darjanto dan St. Satifah. 1984. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia. Jakarta.

Greenaway, T. 1997. Pohon. Terjemahan. Erlangga. Jakarta.
Haygreen, J, G dan Bowyer, J, L. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Terjemahan. Gadjah Mada University Prees. Yogyakarta.

Husna. 1989. Identifikasi Jenis Pepohononan yang ada Di Kampus Bumi Tridharma Skripsi FKIP Unhalu. Kendari.

Junus, M. Rusmaedy, M. Fransz, J.J. Soedirman, S. Digut, Ny. S. Wasaraka. Sila, M. 1985. Dasar Umum Ilmu Kehutanan Buku III Hutan dan Pemanfaatannya. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri. Indonesia Timur.

Landimuru, Y. 1990. Identifikasi Jenis Pepohonan Di Hutan Dataran Rendah Desa Kasipute Kecamatan Wawotobi Kabupaten Kendari. Skripsi FKIP Unhalu. Kendari.

Munro, A, D. 1993. Strategi Menuju Kehidupan Yang Berkelanjutan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
PIKA, 1981. Mengenal Sifat-Sifat Kayu Indonesia Dan Penggunaannya. Kanisius. Yogyakarta.

Polunin, N. 1994. Pengantar Geografi Tumbuhan. Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Samingan, T. 1981. Dendrologi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Simon, H. 1988. Pengantar Ilmu Kehutanan. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu Dasar-Dasar dan Penggunaan edisi Kedua. Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

                                                                                                   
Soeryanegara, It dan Irawan, A. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Syafei, E, S. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB. Bandung

Tjitrosoepomo, G. 1995. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

---------------------. 2001. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

---------------------. 2003. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

van Steenis, C. G. G. J. 2005. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita. Jakarta.

Whitten, J, A. Mustafa, M. Henderson, S, G. 1984. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.



















Lampiran 1.  Dokumentasi Hasil Penelitian








                               a. Daun                                                      b. Batang








                 c. Kulit batang
Gambar 1. Albizzia saponaria,  Wilalo (Muna) 








                               a. Daun                                                      b. Batang








  c. Kulit batang

Gambar  2. Anthocephalus cadamba Miq,  Worotua (Muna)







                               a. Daun                                                    b. Batang







  c. Kulit batang

   Gambar 3. Anthocephalus macrophyllus Roxb.,  Dongkala (Muna)









                              a. Daun                                                   b. Batang








  c. Kulit batang

Gambar 4. Artocarpus teysmanii Miq,  Ghotifulu (Muna)










                              a. Daun                                               b. Batang










c. Kulit batang

Gambar 5. Buchania arborescens Linn,  Ninifoo (Muna)












                                   a. Batang                                        b. Kulit batang

Gambar 6. Cananga odorata Hook,  Ghondolia (Muna)











                              a. Daun                                                      b. Batang









Gambar 7. Dilenia elliptica ,  Soni (Muna)








                              a. Daun                                                    b. Batang










Gambar 8.  Diospyros pilosanthera Blanco,  Ghito-Ghito (Muna)









                       a. Daun                                                      b. Batang










Gambar 9. Eugenia aquaea,  Metombo (Muna)




                                                                                                      




                          a. Daun                                                      b. Batang










Gambar 10. Ficus sp,  Moraa (Muna)









                            a. Daun                                                      b. Batang







c. Kulit batang

Gambar 11. Intsia bijuga O.Ktze.,  Ghefi (Muna)








                          a. Daun                                                      b. Batang








c. Kulit batang

Gambar 12. Kjellbergiodendron sp,  Tembeua (Muna)






                             a. Daun                                                      b. Batang








c. Kulit batang
Gambar 13. Koordersiodendron pinnatum Merr,  Ghui (Muna) 


                                                                                
                                        



                            a. Daun                                                b. Batang








c. Kulit batang

Gambar 14. Mangifera indica Linn,  Foo (Muna)








                                 a. Daun                                                      b. Batang








c. Kulit batang

   Gambar 15. Myristica Iners BI,  Saurea (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang







c. Kulit batang

    Gambar 16. Nauclea orientalis L,  Dongkina (Muna)










                                                           
                        a. Kulit batang                                            b. Batang
           

Gambar 17. Parinari corymbosum Miq,  Kolasa (Muna)









                                    a. Daun                                             b. Batang









c. Kulit batang

      Gambar 18. Pometia Pinnata Forst,  Kase (Muna)


                                           


                                                                  





                                    a. Daun                                             b. Batang


Gambar 19. Tricherspernum sp,  Bunu (Muna)









                                    a. Daun                                             b. Batang









c. Kulit batang


Gambar 20. Vitex cofassus Reinw,  Fafa (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang








c. Kulit batang

Gambar 21. Vitex glabarata Roxb,  Tumpira (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang







c. Kulit batang

Gambar 22. Ghewe (Muna)










                            a. Daun                                             b. Batang








                                                     c. Kulit batang
Gambar 23. Meno (Muna)









                                    a. Daun                                             b. Batang







                                                     c. Kulit batang
Gambar 24. Wugho (Muna)










                           a. Daun                                              b. Batang









                                                     c. Kulit batang
Gambar 25. Bebele (Muna)








                            a. Daun                                             b. Batang






                                                     c. Kulit batang

Gambar 25. Bhuli Ngkowala (Muna)














                                    a. Daun                                             b. Batang

Gambar 26. Buntuti (Muna)













                                    a. Daun                                             b. Batang








                                                             c. Kulit batang

Gambar 28. Ghoghone (Muna)









                                    a. Daun                                             b. Batang









                                                            c. Kulit batang

Gambar 29. Ghunubeli (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang







                                                  
                                                               c. Kulit batang

    Gambar 30. Katinda (Muna)











                                    a. Daun                                             b. Batang








                                                             c. Kulit batang

  Gambar 31. Mandula (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang








                                                               c. Kulit batang
    Gambar 32. Nawo (Muna)









                                    a. Daun                                             b. Batang





                                 

                                                               c. Kulit batang

Gambar 33. Rangkano Vetegho (Muna)
                           








                                    a. Daun                                             b. Batang








                                                               c. Kulit batang

Gambar 34. Sau kapaya (Muna)










                                              a. Daun                                             b. Batang








                                                               c. Kulit batang
Gambar 35. Saumpaghi (Muna)








                                    a. Daun                                             b. Batang









                                                             c. Kulit batang
Gambar 36. Sumbawa (Muna)








                                              a. Daun                                             b. Batang







                                                             c. Kulit batang
Gambar 37. Wentei (muna)









                                              a. Daun                                             b. Batang








                                                             c. Kulit batang

         Gambar 38. Wiolo (Muna)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar